Pemanfaatan Potensi Maritim Jawa Timur

Jawa Timur mempunyai luas per­airan ± 357.707 kilometer persegi, meliputi Selat Madura, Laut Jawa, Selat Bali (pantai utara), dan Samudra Indonesia serta ZEEI (pantai selatan). Garis pantainya sepanjang 1.900 km dan bertabur 446 pulau – pulau kecil. Sebanyak 19 Kabupaten dan 3 Kota dari 38 kabupaten/kota atau lebih dari 60 persen merupakan wilayah pesisir.

Jasa maritim, pulau-pulau kecil, kekayaan tambang-mineral, peri­kanan dan budidaya laut, serta industri kelautan merupakan aset yang belum dimanfaatkan potensinya secara maksimal. Letak geopolitik yang sangat strategis memosisikan Jawa Timur sebagai sentra kegiatan ekonomi Indonesia, khusunya Indonesia Bagian Timur.

Salah satu potensi kelautan dapat dilihat dari banyaknya sumber daya ikan sebesar 1,7 juta ton per tahun, tetapi pemanfaatannya baru 453.034,05 ton per tahun atau 56,30 persen. Sebagian besar ikan tangkapan, sekitar 87,98 persen diperoleh dari perairan utara, sedangkan dari pantai selatan hanya 12,12 persen. Potensi perikanan yang masih sangat terbuka untuk investasi adalah marine culture. Lahan yang dimanfaatkan baru seluas 31.937 hektar. Jika dihitung dari panjang garis pantai selebar 5 mil ke arah laut, luas lahan ma­rine culture yang efektif untuk usaha budidaya laut diperkirakan mencapai 477.923 ha. Komodi­tasnya antara lain rumput laut, kerapu, kakap, abalone, dan kepiting bakau.

Potensi lain yang belum optimal adalah berupa gugusan kepu­lauan di Kabupaten Sumenep, seperti Pulau Sepanjang, Sapudi, Kangean, dan Sapeken serta Pu­lau Bawean di Kabupaten Gresik. Keindahan panorama alamnya sudah dikenal wisatawan asing. Pulau-pulau tersebut telah dipasarkan ke mancanegara dan dimanfaatkan agen perjalanan justru dari luar Jawa Timur. Se­lain pulau-pulau kecil nan indah itu, tercatat sedikitnya 52 lokasi wisata bahari di pesisir selatan dan pantai utara juga menunggu sentuhan investasi.

Dari sedikitnya 52 titik obyek wisata itu mempunyai daya tarik untuk aktivitas selam, selancar, snorkling, dan memancing. Se­bagian obyek wisata itu berpasir putih, memiliki air laut jernih, dan memiliki fenomena alam. Zona kawasan pantainya untuk berjemur, bermain, dan melihat pemandangan. Zona kawasan lindung berupa hutan, hutan mangrove, perbukitan, dan ke­bun kelapa dapat dimanfaatkan untuk aktivitas penjelajahan dan minat khusus. Selain itu, zona permukiman juga dikembangkan untuk atraksi wisata, hotel, dan pasar wisata.

Potensi lain berupa kekayaan minyak dan gas alam. Kini terda­pat sedikitnya 32 blok migas yang belum dan sudah ditenderkan ke kontraktor production shar­ing (KPS), baik yang lokasinya di lepas pantai (offshore) seperti di Selat Madura, Laut Jawa, dan Samudra Indonesia, maupun di dekat pantai (onshore). Sebanyak 26 sumber migas sudah dioperasi­kan 19 kontraktor kontrak kerja sama.

Di sektor industri maritim, Jawa Timur memiliki prestasi yang sangat baik di bidang industri galangan kapal, yakni mampu membangun kapal berbobot 10.000 gross tonnage (GT) dan memperbaiki kapal berukuran hingga 20.000 GT. Di Surabaya, sedikitnya, tercatat 14 industri galangan kapal baik kecil maupun besar.

Sek­tor industri maritim lain yang belum tersentuh adalah industri bioteknologi kelautan, antara lain industri farmasi (omega-3, squalence, dan ciagra), indus­tri mineral berupa pasir laut, kerikil, nodul, tembaga, nikel, kobalt, dan uranium; serta indus­tri air laut berupa sodium klor­ida (NaCL) untuk memproduksi klorida dan sodium hidroksida, magnesium, bromin, dan garam.